20 Menit “Reading Aloud” untuk Kehidupan Anak – anak Kita

CIMG8281Tentang Reading Aloud

Reading Aloud sebenarnya bukan sesuatu yang baru,  “Reading Aloud” berarti membacakan dengan keras atau nyaring. Ketika saya bersekolah di jenjang sekolah dasar, sekitar tahun 70-an, kegiatan Reading Aloud (membaca nyaring) sering dilakukan dan dipraktekan oleh guru-guru kami. Reading Aloud yang biasa dilakukan oleh siswa kala itu adalah membaca bersama-sama satu atau dua paragraph pada buku paket, dengan irama yang standar. Kegiatan ini selain melatih pengucapan siswa agar dapat mengucapkan melafalkan huruf dan kata dengan benar, melatih siswa agar dapat mengucapkan dengan intonasi yang benar, dan melatih siswa untuk mengucapkan dengan suara nyaring (tidak teriak-teriak). Selain dari kegiatan siswa tersebut Reading Aloud juga sering dilakukan oleh guru-guru kami kala itu, baik ketika membaca satu pokok bahasan dalam buku paket, atau membaca buku cerita atau mendongeng (ini yang menarik buat kami siswa – siswa nya).

Pembaca  yang baik adalah pembaca yang mampu berkomunikasi dengan buku yang dibacanya. Pembaca yang baik senantiasa melibatkan  seluruh potensi dirinya, fisik (oral) untuk melafalkan huruf dan kata dengan baik, melakukan penekanan atau intonasi kata dan kalimat dengan tepat. Melibatkan fikirannya untuk memahami isi dan makna dari kata – kata dan kalimat yang ada dalam buku tersebut, serta melibatkan perasaannya untuk menjiwai alur cerita buku yang dibacanya, bahkan anggota tubuh lainnya (body language), untuk memeragakan atau menguatkan kesan dari cerita yang dibacanya. Semua dilakukan agar para pendengar tidak bosan, dan dapat menangkap pesan yang terdapat dalam buku yang dibaca, mampu memahami isi bacaan dengan baik.

Istilah Read Aloud akhir – akhir ini banyak dibicarakan dan kembali digencarkan oleh para pegiat literasi baik secara perorangan maupun berkelompok / komunitas. Namun gerakan Read Aloud yang kembali digaungkan ini, bukan ditujukan ke sekolah – sekolah, karena bisa jadi sebagian sekolah masih menerapkan atau menjalankan kegiatan read aloud atau membaca nyaring sampai saat ini.

Kegiatan read aloud yang sedang gaungkan oleh para pegiat literasi adalah kegiatan read aloud yang dilakukan oleh para orangtua di rumah – rumah mereka. Di era teknologi informasi seperti sekarang ini, budaya membaca buku mulai hilang tergerus, tergantikan dengan tontonan di TV, Internet, Games dan lainnya. Target utama kegiatan read aloud adalah selain memunculkan kembali minat baca anak – anak, juga agar terjalin komunikasi antara anggota keluarga, ditengah – tengah kesibukan ayah dan ibu yang bekerja.

Tentang Budaya Baca Di Indonesia

Indonesia yang sebagian penduduknya beragama Islam, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al Quran ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., adalah “Iqro” “bacalah”. Seharusnya bangsa kita memiliki budaya membaca yang baik. Namun sayangnya budaya membaca bangsa kita belum cukup baik.  Taufik Ismail dalam risetnya di tahun 2003 menyebutkan bahwa dahulu pada zaman Belanda siswa AMS (SMA) wajib membaca 25 buku sastra dunia yang terdiri atas empat bahasa yaitu Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis, pada 3 tahun bersekolah.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013  menyebutkan, minat baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio. Berbeda dengan beberapa negara maju di dunia seperti, di Amerika Serikat, wajib baca buku setiap sekolah 30 buku, di indonesia nol persen. UNESCO pada tahun 2012 mencatat, indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Sementara UNDP merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen, sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 % (sumber https://ayomembaca2014.wordpress.com/2014/08/07/minat-baca-di-indonesia/)

Sisihkan 20 menit untuk Anak Kita

Sesungguhnya gerakan Read Aloud, ini dapat dijadikan momentum untuk mengembalikan minat dan budaya baca di masyarakat kita. Namun target yang paling utama adalah  menjadikan keluarga sebagai pusat dari perubahan peradaban dan budaya di masyarakat.

Read Aloud yang dilakukan 20 menit oleh  setiap orang tua pada anak – anak mereka akan menjadi sarana menyenangkan, interaksi antar anggota keluarga. 20 menit ini akan kembali membangun keterikatan emosional antara kita  dan anak – anak kita. Dengan 20 menit ini, kita ingin tunjukkan pada anak – anak kita bahwa mereka adalah TERAMAT BERHARGA bagi kita. .

Bagaimana Memulainya….?

Ayah Bunda, para orangtua, tidak perlu bingung, memulainya. Ayah bunda tidak perlu menjadi pakar atau ahli mendongeng atau Read Aloud dahulu. Ayah bunda hanya perlu menyediakan waktu 20 menit untuk memulainya, mulailah dari buku – buku yang tipis dan tema sederhana. Tawarkan dan tanyakan pada anak  buku mana yang mereka inginkan untuk dibaca oleh ayah bunda. Bisa juga untuk kejutan bagi mereka ayah bunda membeli buku – buku yang mereka sukai, tanpa mereka ketahui. Selanjutnya ikuti tahapan berikut :

  1. Baca dahulu buku tersebut, sebagai persiapan awal kita (sebaiknya sebelum anak – anak berkumpul, agar mereka tidak perlu menunggu lama).
  2. Berikan pembukaan sebelum membaca, misalnya dengan menunjuk cover atau sampul buku, halaman depan, menunjukkan gambar apa yang ada, atau menyebutkan pengarang dan Ilustratornya, kemudian sekilas kita sampaikan tentang isi cerita agar suasana dapat terbangun.
  3. Saat memulai membaca, perhatikan performance membaca kita, bacakan cerita dengan se-ekpresif dan semenarik mungkin. Gunakan intonasi suara disesuaikan dengan cerita (keras/lembut, cepat/lambat, dan lain sebagainya), gunakan body language untuk memperkuat ekspresi kita.

Ayah bunda, selamat menikmati 20 menit bersama keluarga

 

Jatisari, 17 Maret 2015

16.30 ditengah curahan Rahmat dari Rabb semesta alam…..

 P1040059

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

JpegKopdar Akbar Guru Blogger Nasional , Ahad 15 Maret 2015,  yang digagas oleh Komunitas  Sejuta Guru Ngeblog, merupakan ajang temu kangen dan perkenalan antara anggota komunitas. Kegiatan Kopdar ini baru pertama kali diadakan, karena memang KSGN juga baru 1 tahun dibentuk, bulan Februari 2014, yang dibentuk oleh para guru profesional dibidangnya dan sudah pasti suka ngeblog. Para “pawang” KSGN tersebut adalah Wijaya Kusumah (biasa dipanggil oleh para blogger Om Jay), Namin AB Ibnu Solihin (Motivator Kreatif), Dedi Dwitagama (Kepala SMKN 2 Penerbangan), Mas Sukani (Juara Lomba Guru Era Baru),  Amiroh Adnan (Juara Lomba Guru Era Baru), Sudarma, Muhammad Sukbari, dan Meti Mediya., Yulef Dian.

Bekerjasama dengan  PT Indosat Tbk., kegiatan ini berlangsung dalam suasana yang santai dan sangat bermanfaat yang luar biasa. Terutama memunculkan semangat dan motivasi para guru untuk mengembangkan wawasan tekhnologi (khususnya IT) dan memotivasi untuk memiliki blog pribadi.

Kegiatan Kopdar KSGN diisi dengan informasi dan pengenalan Forum Icity, yang disampaikan oleh mbak Ghina dari  PT Indosat Tbk., menurut beliau forum ini adalah satu-satunya forum di Indonesia yang memberikan solusi di bidang IT, disamping keunggulan – keunggulan lainnya silahkan kunjungi http://icity.indosat.com/.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan bincang Guru Blogger Berprestasi, yang diisi oleh 3 pembicara Dedi Dwitagama, Amiroh Adnan, dan Muhammad Subakri dipandu oleh Namin AB Ibnu Sholihin. Secara umum ketiga pembicara yang luar biasa ini memaparkan tentang pengalaman mereka berblog ria, dan menyampaikan tentang manfaat dari kegiatan ngeblog bagi seorang guru.

Sesi berikutnya adalah seminar IT dengan pembicara Imam Suwandi ( Cak Imam, dari Metro TV ), yang memaparkan tentang pemanfaatan tekhnologi dan trend baru “Citizen Journalism”  menggunakan alat sederhana HP dan tongsisnya. Materi ini bermanfaat untuk semua kalangan masyarakat untuk dapat melaporkan setiap kejadian – kejadian penting yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sesi ketiga ini juga diisi oleh seorang dosen “nyentrik” Bapak Ono W. Purbo, dengan tampilan sederhana dan energik, beliau memaparkan tentang paradigma seorang guru seharusnyadan target seorang guru dalam menilai anak didiknya, terobosan-terobosan yang telah beliau lakukan dalam memanfaatkan IT untuk memudahkan siswa dalam mencapai prestasinya patut diacungi jempol. Bahkan beliau mempersilahkan jika ada yang berminat menjadi mahasiswa online beliau (gratis tanpa dipungut biaya) silahkan kunjungi http://cyberlearning.web.id/moodle/

Ada beberapa catatan menarik dari kegiatan ini (tentunya hanya sebagian yang terekam dan tercatat oleh saya) :

  1. Pilihan ada dalam diri kita untuk menjadi guru yang dikenang atau guru yang hilang dalam kenangan, ketika kita memilih untuk menjadi guru yang dikenang setelah kematian kita, maka pilihannya adalah menulis dan menurunkan ilmu kita dalam blog, agar dapat dimanfaatkan bukan saja oleh murid-murid kita, tetapi oleh banyak orang di seluruh dunia.
  2. Seorang guru harus dapat memanfaatkan semua tekhnologi yang ada hari ini, termasuk internet dengan membuat blog, yang berisi ilmu-ilmu yang bermanfaat, sehingga jika ada satu juta guru, mengisi dan meramaikan dunia maya, dengan postingan – postngan (gambar, film atau tulisan) berisi ilmu dan bermanfaat, maka akan menggeser atau paling tidak mengurangi konten-konten dan postingan-postingan yang tidak bermanfaat.
  3. Pemanfaatan tekhnologi untuk dunia pendidikan sangat terbuka dan terbentang luas dan sudah berada dalam genggaman kita dalam bentuk smartphone, tinggal permasalahannya adalah apakah yang smart hanya phone saja atau juga pemiliknya.

Goresan ini saya akhiri dengan satu catatan menarik dan inspiratif dari seorang guru dari desa yang hadir pada Kopdar 1 KSGN Bapak Muhammad Subakri, yang menjadi pemotivasi semangat saya hari itu adalah (beliau menukil ucapan seorang ulama besar Imam Al Ghazali) “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka menulislah”.

Jatisari, 17 Maret 2015,

00:27 menjelang lelap malam

Jpeg

Anak Kandung yang Tersisihkan….

Pagi ini sambil menikmati cemilan, saya coba membuka kiriman link berita dari salah seorang shahabat komunitas para pendidik. Link ini (http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/siswa-madrasah-gagal-maju-osn-provinsi/ dan  http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/menag-telusuri-kasus-tiga-madrasah-tidak-ikutosn/) , berisi tentang berita 3 orang siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Kabupaten Semarang yang gagal maju Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Propinsi, setelah mereka menjuarai OSN tingkat Kabupaten.

Alasannya terganjal regulasi yang ada, bahwa berdasarkan persyaratan dan petunjuk teknis (juknis) pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) dari Dirjen Dikdas. Dalam juknis Dirjen Dikdas melalui Surat Edaran Nomor 056/02/TE/ 2015 tentang Olimpiade Tingkat SD Tahun Anggaran 2015 menyebutkan, kepesertaan OSN di tingkat provinsi hanya diikuti siswa SD. Hal ini juga terdapat dalam Juknis Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Nomor 421.7/06548 tentang Penyelenggaraan OSN SD dan SMP.

Padahal secara umum madrasah (MI, MTs, MA),  juga sama dengan sekolah lain, yaitu lembaga pendidikan yang menggunakan sistem klasikal dan kelas dengan segala fasilitas standar yang sama dengan sekolah lainnya,  seperti kursi, meja dan papan tulis. Perbedaannya adalah kurikulum yang digunakan dan perindukan administrasinya, madrasah menginduk ke Departemen Agama.

Namun saat ini posisi madrasah secara yuridis memiliki kedudukan yang sama terutama dalam aspek kurikulum. Dalam Permendiknas no. 22, 23, 24 tahun 2006, atau Permendikbud NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN atau Permendikbud No.32 tahun 2013, TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN, termaktub bahwa MI, MTs dan MA adalah satuan pendidikan yang diakui oleh pemerintah dan sejajar dengan satuan pendidikan lainnya.

Banyak literatur yang menyebutkan bahwa di Indonesia awal perkembangan sekolah bercirikan Islam ini (madrasah) merupakan fenomena modern dalam dunia pendidikan dimulai sekitar awal abad ke-20. Sebelum muncul sekolah formal (madrasah), awal proses pendidikan dan pembelajaran dilaksanakan di masjid dan pesantren. Madrasah di semua jenjangnya adalah bentuk pengembangan dari system pendidikan yang ada, jika sebelumnya bersifat individual, tradisional dan terkadang banyak unsur mistik serta tasawuf (pesantren), maka sekolah madrasah merubah dan mengembangkannya menjadi lebih modern.

Format pendidikan dan pembelajaran madrasah dari waktu ke waktu semakin berkembang dan memiliki kejelasannya. Pengembangan dan modernisasi isi dan visi keIslaman terus mengalami perubahan dan kemajuannya. Materi dan muatan kurikulumnya pun terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman. Selain diberikan materi / kurikulum keagamaan (Islam), siswa madrasah juga diberikan materi / kurikulum yang diberi di sekolah umum.

Sehingga tidak layak lagi jika madrasah dipandang sebelah mata (dianak tirikan) oleh pemerintah, karena sesungguhnya ketika keberadaannya diakui oleh pemerintah, maka hak dan kewajibannya pun seharusnya diakui, diberikan serta dijalankan. Semoga kedepan tidak ada lagi “anak kandung yang di sisihkan oleh orangtuanya…….

Jatisari, 10 Maret 2015

Pagihari yang sejuk, setelah semalam Allah curahkan Rahmat-Nya……  

…mereka membela Rasulullah SAW., dengan cara dan kemampuan mereka…..

“Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!”

Demikian ungkapan singkat salah seorang shahabat Rasulullah SAW., Khubaib bin Adiy, ketika dalam kondisi sekarat, setelah dihujani anak panah oleh pasukan pemanah kafir Qurasy, dalam sebuah eksekusi yang disaksikan oleh banyak orang kafir.

Dalam kondisi sekarat tersebut Abu Sufyan (ketika itu masih kafir), menghampirinya dan berkata, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat wal afiat bersama keluargamu?”

Demi Allah,” jawab Khubaib, “Tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!”

Abu Sufyan pun geleng-geleng kepala sambil berkata, “Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia yang sangat mencintai sahabatnya, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad ini terhadap Muhammad.”

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojo pun menghabisi Khubaib. Namun sebelum ruhnya meninggalkan raga, Khubaib sempat berucap, “Ya Allah, kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami.

Begitulah salah satu kisah tentang kecintaan para shahabat kepada Nabi Muhammad SAW., yang direkam oleh sejarah, diantara banyak kisah tentang kecintaan pada Rasulullah SAW., lainnya.

Mereka, para shahabat radhiAllahu anhum, tidak pernah merayakan maulidnya Rasulullah SAW., tetapi mereka tunjukan kecintaan itu dalam keseharian mereka, bukan basa – basi atau sekedar ritual saja.

begitulah kecintaan ….ia akan melahirkan pembelaan

begitulah kecintaan ….ia akan melahirkan pengorbanan

begitulah kecintaan ….ia membutuhkan pembuktian

dari sang pecinta….kepada yang dicintainya

Para Shahabat ra., telah membuktikannya, generasi salaf pun telah membuktikannya, dan hari ini tugas kita membuktikan kecintaan kita pada Rasulullah SAW.,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23).

Serpihan Kertas Ibunda

Konon dahulu, ada sebuah negara yang memiliki kebiasaan meninggalkan orangtuanya yang sudah tua renta di tengah hutan. Mereka beranggapan bahwa orangtuanya sudah tidak lagi berguna, karena sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Mereka beranggapan bahwa orangtuanya yang telah tua dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi itu hanya menjadi beban, di rumah atau di hutan sama saja lambat laun akan mati.

Alkisah ada seorang anak laki-laki yang karena kebiasaan dan tradisi leluhur harus meninggalkan ibunya yang tua renta. Setelah menyiapkan bahan makanan untuk ibunya selama beberapa bulan, dia gendong ibunya, untuk dibawa ke tengah hutan. Anak laki-laki tersebut menggendong ibunya yang tua renta dan lumpuh kakinya.
Sepanjang perjalanan si ibu yang berada di pundak anak laki-lakinya melemparkan kertas-kertas kecil yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari.
Sesampainya di tengah hutan, dengan sedih dan gamang, anak laki-laki tadi meletakkan ibunya dan membuat sebuah gubuk untuk ibunya.
Selesai gubuk dibuatnya dan sebelum pergi meninggalkan ibunya, dia menatap wajah dan mata sang ibu, dengan nada sedih dia berkata,”bunda ma’afkan ananda,……..tradisi dan kebiasaan leluhur kita yang mengharuskan ananda melakukan ini”.
Sambil tersenyum dan menatap tegar anaknya, si ibu berkata,”sudahlah nak, ibu tahu engkau sudah memikirkannya jauh-jauh hari untuk mengikuti tradisi yang dilakukan oleh masyarakat kita, karena ibu pun melakukannya pada nenek mu dulu. Pulanglah nak, agar engkau tidak tersesat kembali ke rumah kita, ikutilah potongan-potongan kertas itu, sudah bunda siapkan jauh-jauh hari”.
Dengan menangis, si anak laki-laki tadi memeluk ibunya, dan meminta ma’af padanya, kemudian digendongnya kembali ibunya untuk dibawa pulang ke rumah mereka…….

Jatisari, 23 Desember 2014.

Revolusi (Mental) Pendidikan Kita

Pagi tadi salah seorang guru disekolah tempat saya beraktifitas bercerita tentang pengalamannya mengikuti kegiatan pelatihan / pembinaan selama 6 hari, sebagai utusan sekolah kami. Beliau menyampaikan bahwa pada malam hari terakhir beliau bertengkar dengan panitia pembinanya.
Saya tanyakan, “memang ada apa?”
“Dimalam terakhir saat kegiatan api unggun pak”, kata beliau.
Saya katakan, “Itu hal biasalah, dalam setiap kegiatan pasti pada malam akhir penutupan diadakan kegiatan haflah atau tampilan-tampilan berupa hiburan, acara santailah, yang terpenting kita meyakini bahwa api unggun itu hanya sebatas sebagai penghangat badan”.
“Sebenarnya acara api unggunnya tidak saya permasalahkan pak noor, tetapi setelah acara dimulai salah seorang panitia maju ke depan, sambil memegang tongkat dan menawarkan kepada peserta yang mengelilingi api unggun, siapa yang berani tampil ke depan?, ada beberapa peserta termasuk saya tampil ke depan untuk mengisi acara, ketika kami termasuk saya telah memegang tongkat yang dibawa panitia tadi, langsung panitia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, katanya”
“Tidak pantas bagaimana?” tanyaku
“Yaah pokoknya tidak pantaslah pak, ada kata-kata binatang yang dikeluarkan dari mulut panitia, yang tidak pantas diucapkan pada saat itu, karena hampir semua peserta kegiatan itu adalah utusan sekolah, berarti mereka guru”, lanjutnya.
“Terus gimana kelanjutannya”, tanyaku lagi penasaran
“Iya, saya langsung protes, si panitia merasa acaranya diusik marah dan menyuruh saya ke ruang panitia, sampai di ruang panitia, ketua panitia dan panitia tadi menyampaikan bahwa kata-kata itu hanya bagian dari acara jadi tidak serius, tapi saya tetap ngotot pak, saya katakan tetap saja, bahwa kata-kata itu tidak pantas diucapkan didepan peserta yang sebagian besar adalah guru-guru yang mewakili sekolahnya”, katanya dengan bersemangat.
“akhirnya panitia itu meminta ma’af malam itu, dan keesokan harinya ketika acara penutupan saat penyampaian kesan dan pesan saya angkat kembali permasalahan semalam, dan panitia meminta ma’af kembali”, jelasnya menutup bincang-bincang kami.

Beginilah wajah (sebagian) dunia pendidikan kita, sekolah sebagai “mesin” penghasil generasi penerus harusnya dioperasikan oleh guru yang baik. Ketika guru sebagai operator mesin ini tidak baik, maka bagaimana mungkin produk yang dihasilkan akan baik.
Namun gurupun harus dikelola oleh pengelola yang baik, ketika pengelola guru tidak baik, maka jangan berharap akan baik output anak didik yang dihasilkannya.
Cerita teman saya di atas adalah salah satu contoh, betapa sisa-sisa feodalisme masih ada dan bersarang dalam diri panitia, yang jika hal ini dibiarkan tidak disadarkan, maka para peserta akan menurunkan kepada anak didiknya ketika mereka menjadi panitia di sekolah masing-masing, atau paling tidak mereka akan membiarkan dan mendiamkan ketika ada siswanya yang menjadi panitia acara, menggunakan kata-kata kasar kepada pesertanya, dengan dalih ‘bagian dari acara”.
Sesungguhnya anak didik atau siswa adalah amanah dari sistem pendidikan kita, raga dan jiwanya akan berkembang sesuai dengan arahan dan bimbingan pendidiknya. Dunia pendidikan dan sistem pendidikan kita harus di perbaiki, tidak cukup hanya direformasi, diperbaiki beberapa bagian saja tapi tetap mempertahankan bagian yang lain, tetapi harus di “revolusi” seluruhnya. Dibongkar mentalitas feodal, mentalitas merasa paling benar karena posisinya, mentalitas korup dengan dalih atau alasan apapun.
Maka saya teringat pesan dari pembina sekolah kami Bapak Ir. Abdul Kadir Baraja, dalam satu sesi pembinaan, beliau menyuruh saya maju ke depan, kemudian beliau memberikan saya kertas tissue dan menyuruh saya membuang kertas tadi di depannya. Beliau menyampaikan bahwa seorang guru yang baik bukanlah yang menyuruh anak yang membuang sampah tadi untuk mengambil sampah dan membuang pada tempatnya. Tetapi guru yang baik adalah yang mengambil sampah (yang dibuang anak tadi) kemudian membuangnya ditempat sampah, lalu memberikan nasihat pada anak tadi untuk membuang sampah pada tempatnya.
Keteladanan, itulah kata kunci dalam pendidikan, maka jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat sholat berjama’ah di masjid, kalau gurunya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid, dan jangan berharap guru akan semangat sholat berjama’ah di masjid kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid.
Demikian juga dengan belajar dan berprestasi, jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat untuk belajar dan berprestasi, kalau gurunya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi, dan jangan berharap guru akan semangat untuk belajar dan berprestasi kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi.
Jadi mulailah revolusi mental itu dari dalam diri kita, Allahu’alam.

Guru Era Baru itu Amanah, Cerdas, Energik & Ramah

Alhamdulillah, hari-hari terakhir ini profesi guru merambat namun pasti menempati posisi yang prestise dari sisi sosial ekonomi. Setelah beberapa tahun sebelumnya paling tidak, tahun disaat lagu “Umar Bakri”, bang Iwan Fals menjadi lagu hits, walaupun ditengah intimidasi penguasa, namun lagu tersebut berhasil membooming, karena menyuarakan isi hati rakyat terutama para guru saat itu.

Mungkin hari ini ada beberapa bait lirik lagu bang Iwan, yang sudah tidak update lagi, karena hari-hari terakhir ini regulasi pemerintah yang berupaya untuk dmeningkatkan kesejahteraan guru sudah dikeluarkan baik itu guru swasta apalagi negeri, walaupun memang masih jauh, jika dibandingkan dengan profesi lain, tetapi paling tidak, profesi guru tidak lagi dilihat sebelah mata, oleh masyarakat, tidak lagi dijadikan profesi terakhir, daripada tidak ada pekerjaan lain.

Sesungguhnya, masa depan negeri tercinta Indonesia ini berada ditangan mereka para Guraru ACER (guru era baru yang amanah, cerdas, energik dan ramah). Guru tetaplah unsur sentral dalam dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan. Walaupun disana (proses pendidikan) terdapat metode yang canggih atau materi belajar yang lengkap, namun keberadaan Guraru ACER ini sangatlah jauh lebih penting, dari semua itu.

Guru era baru yang Amanah, akan mampu menjalankan dan mengelola proses pendidikan dari hatinya, bukan dari lisannya saja, karena jika lisannya saja yang bekerja maka yang menerima pekerjaannya adalah telinga, tetapi jika ia bekerja dengan hatinya, maka yang menerima juga hati para siswanya.

Guru era baru yang Cerdas, akan mampu mencari dan mengelola bahan ajar yang ada disekitarnya, dia tidak akan terpaku dan pasrah dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, dia akan terus mencari dan mencari sumber dan alat belajar yang dapat mensupport dirinya dalam mentransfer nilai dan ilmu kepada para siswanya. para guraru ini akan terus melesatkan wawasannya, baik wawasan metodik didaktikanya ataupun wawasan tekhnologinya. Dia akan senantiasa menyiapkan siswanya untuk siap menghadapi kehidupan mereka, dimanapun mereka berada, baik dalam kondisi keterbatasan tekhnologi dan informasi, maupun keberlimpahan tekhnologi dan informasi. Dia akan menjadi guru yang kreatif dan inspiratif bagi siswanya, dimanapun dia berada.

Guru era baru yang Energik, akan senantiasa bersemangat dan antusias dalam mengemban amanahnya. Guraru menyadari bahwa dari dirinyalah terpancar energi para siswanya, mereka (para siswa) akan bersemangat, ketika gurunya bersemangat dan sebalik. Guraru menyadari bahwa setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing, namun permasalahan pribadi, rumah dan lingkungan akan ditanggalkannya dipintu gerbang sekolah, diawali langkah kaki pertamanya masuk dalam kelas, bertemu dengan siswanya dengan niat ikhlas dan tanpa beban masalah pribadinya.

Guru era baru yang Ramah, senantiasa tersenyum dan berlemah lembut pada seluruh siswanya. Dia menyadari bahwa dengan senyumlah segala kebaikan akan berawal, dengan senyumlah segala gundah gulana yang dihadapi seluruh siswanya (yang memiliki bermacam problem) yang sedikit dapat terkurangi. Keramahannya dapat dirasakan oleh siswanya, teman sejawat dan lingkungannya. Keramahannya akan mampu menyejukkan dan menentramkan siswanya. Sikap ramahnya akan mampu menumbuh suburkan “tanamannya” hingga dia dewasa nanti.

Maka siapapun anda, darimanapun latar belakang pendidikan anda, jadilah GURARU ACER……”Selamat Hari Guru”

Jatisari 25 November 2013