Akhiri dengan Alhamdulillah

 

Pagi tadi, sebelum sesi pembinaan sempat kaget ketika dialog dengan seorang teman.
“Saya sudah tidak di sekolah itu lagi ustadz Noor”.
“Loh memangnya ustadz, sudah berapa lama mengajar disana?”, tanya saya.
“Sekitar 20 tahunan ustadz”.
“Terus ada masalah apa ustadz sehingga memutuskan resign?” tanya saya lagi
“Ndak ada masalah, saya hanya harus memilih, antara pekerjaan dan keluarga”.

Saya semakin bingung….

“Iya, ustadz Noor, saya bekerja kan juga demi keluarga, untuk menghidupi keluarga, buat apa kalau saya bekerja, tapi keluarga saya tidak teropeni”, katanya.

Saya mencoba mencerna, kata – katanya….

“Sudah beberapa bulan ini istri saya sakit ustadz Noor, dia butuh perawatan optimal, setiap harinya. Kalau saya tetap mengajar di sekolah, maka istri saya tidak ada yang merawat.

Sebaliknya kalau saya sering izin tinggalkan sekolah untuk merawat istri, saya tidak bisa tenang karena memikirkan murid-murid yang saya tinggalkan di sekolah”.

“MasyaAllah…….”, saya bergumam dalam hati.

“Alhamdulillah ustadz, saat ini istri sudah agak baikan, sudah bisa ditinggal, walaupun masih harus konsumsi obat-obatan”.

Syafahallah…….

Alhamdulillah, pagi ini Allah SWT., mengajarkan pada saya bagaimana menjadi seorang suami dan guru yang baik……

Dalam hidup ini terkadang kita harus memilih, salah satu diantara beberapa pilihan.

Dahulu dari sekian banyak wanita yang bisa dijadikan pilihan, maka kita dengan Bismillah kita memilih satu wanita untuk menjadi istri kita.

Dahulu dari sekian banyak pria yang bisa dijadikan pilihan, maka kita dengan Bismillah kita memilih satu pria untuk menjadi suami kita.

Demikianlah seharusnya, ketika kita memilih pasangan hidup kita dengan Bismillah, maka seharusnya kita mengakhirinya dengan Alhamdulillah…..

Alhamdulillah bahtera yang kita lalui bersama, tidak karam ditengah lautan oleh ombak, gelombang pasang dan batu karang.

Alhamdulillah saya telah mendampingi dan melayaninya dengan baik selama menyelesaikan perjalanan bahtera kehidupan ini.

Alhamdulillah saya telah menjaga dan memberinya nafkah terbaik, dari keringat saya sampai Allah SWT., meminta jasadnya kembali.

Semoga ungkapan Alhamdulillah di dunia ini akan kita ucapkan bersama kembali di akhirat bersama-sama…….

Alhamdulillah kita dipertemukan kembali sebagai pasangan di Syurga Nya

Kembali kau memilih jalan sunnah Nabi mu

Malam ini saya mendengar khabar, dari istri teman bahwa suaminya memutuskan untuk berhenti berkerja di kantor dan akan berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Alasannya sederhana, dia mau konsentrasi memperbaiki bacaan Qurannya, karena sudah lama mengikuti program tahsin, tapi masih belum baik bacaan qurannya, mungkin karena dia mengikutinya disisa – sisa waktunya sebagai pegawai.

Subhanallah….ini kali keduanya teman saya ini mengambil keputusan, yang melawan “mainstream” dan dengan alasan sederhana namun sangat LUAR BIASA, ingin mengikuti Sunnah Nabi Muhammad Saw.

Saya kembali mengingat ketika teman ini menyatakan kesiapannya untuk menikah (kalau tidak salah usianya saat itu 28 tahun) dan menyerahkan biodatanya pada saya. Saya tanyakan apa kriteria calon istri yang diharapkannya?, dia menjawab “kalau bisa yang lebih tua dari saya, pak”. Ketika saya tanya alasannya, dia jawab, “saya ingin mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw., pak”.

Sekitar 2 atau 3 pekan kemudian, sudah ada 3 biodata akhwat ditangan saya, tentu saja sesuai dengan kriteria yang diinginkan teman saya ini, ada yang berusia 29 tahun seorang pegawai, seorang guru usia 30 tahun, dan seorang relawan sebuah lembaga berusia 38 tahun. Sebelum saya berikan biodata ketiga akhwat tersebut, saya sampaikan padanya ada 3 akhwat kriteria usia di atas usia, dan kembali saya dikejutkan dengan pilihannya, dia memilih akhwat yang berusia 10 tahun lebih tua darinya.

Saya coba memastikan keseriusannya dan dia tetap memilih yang berusia 38 tahun. Alasannya sama, “saya ingin mengikuti sunnah Nabi, pak”. Akhirnya, saya berikan biodata akhwat yang berusia 38 tahun, dan meminta dia untuk mempertimbangkannya.

Kurang lebih 3 pekan saya tidak menanyakan khabar keputusan yang diambilnya, maka setelah masuk pekan ke 4, saya coba kontak teman ini via telepon, menanyakan keputusan akhirnya, dia menjawab, “tidak ada kata lain pak, kecuali saya insyaallah siap dengan akhwat ini”.

Saya coba mengingatkan tentang resiko / konsekwensi pilihannya, tetapi karena via telepon saya tidak merasa nyaman, maka saya memintanya untuk bermalam di rumah saya, bertepatan saat itu jadwal untuk mabit dengan teman-teman satu grup pengajiannya.

Selesai membahas program dan diskusi, saya meminta pada yang lainnya untuk segera tidur di kamar atas, sementara saya dan teman yang akan menikah ini masih di teras.

Setelah membahas beberapa hal sebagai prolognya, saya kembali mencoba mengingatkannya tentang resiko dari pilihannya, tentang masa depannya, saya coba menggoyahkan keputusan yang diambilnya. Tetapi kembali dia sampaikan dengan mantap bahwa ini adalah pilihan yang tepat, “saya tidak ada kata – kata lain pak, kecuali saya siap dan ingin mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw.

Hingga pukul 02.30 dini hari, tidak ada tanda – tanda akan berubah pilihannya, bahkan ketika saya sampaikan kemungkinan – kemungkinannya, jawaban yang diberikan semakin memperlihatkan kemantapan pilihannya.

Dan hari ini kembali, dia memilih mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw., berdagang, agar dia dapat konsentrasi memperbaiki bacaan Qurannya……Barakallahu fiikum, semoga Allah memudahkan seluruh urusan antum, dan memuliakan antum di dunia serta akhirat kelak…….Aaamiiiiin.

#catatan facebook 8 Mei 2015

Bekal Awal Seorang Pemimpin

Setelah bersaing dengan 11 kandidat calon ketua OSIS SMPIT Nur Hikmah Bekasi, maka terpilihlah  4 orang kandidat calon ketua OSIS untuk putaran kedua. Dalam putaran pertama, para kandidat  diwajibkan memaparkan wawasan keagamaan, wawasan kebangsaan dan wawasan sosial budaya dalam bentuk presentasi makalah. Selanjutnya 4 kandidat tersebut dikembalikan kepada para mentor masing-masing untuk mendapatkan “petuah” dari para mentor dalam mempersiapkan “performance candidat” calon ketua OSIS.

Fajar Malikul Saleh adalah salah satu calon ketua OSIS yang bertepatan saya sebagai mentornya. Sebagaimana calon yang lain, dia juga mencari saya untuk meminta arahan dalam menyusun rencana kampanye dan membuat slide power point untuk dipresentasikan pada saat debat kandidat.

Siang itu, setelah sholat dan makan siang, kami sepakat untuk bertemu di ruang guru. Sebagaimana yang ditugaskan oleh panitia, bahwa setiap mentor harus memberikan saran dan bimbingan kepada calon ketua OSIS, untuk persiapan presentasi.

Ada tiga hal yang saya sampaikan kepada Fajar, sebagai bekal awal :

  1. Kekuatan Hubungan dengan Tuhannya.

Keberhasilan dan kesuksesan seseorang untuk menjadi dan sebagai seorang pemimpin, sangat erat ditentukan oleh kekuatan hubungannya dengan Allah SWT. Semakin dekat dirinya dengan sang pencipta akan semakin mudah kepemimpinan itu dapat diraih dan dijalankan. Mungkin kita dapat mengeluarkan banyak uang dan harta kita untuk membeli, meraih serta mengumpulkan suara, tetapi kita tidak akan dapat membeli suara Tuhan. Ketika kita dekat dengan Allah SWT., maka Dia akan menggerakkan hati manusia untuk cenderung, memilih dan mengangkat diri kita sebagai pemimpinnya.

Semakin tinggi tanggungjawab seorang pemimpin, maka akan semakin banyak masalah dan problem yang dihadapinya. Solusi terbaik dari setiap permasalahan yang kita hadapi oleh seorang pemimpin adalah dengan meletakkan kening kita di lantai (sujud) dan merendahkan diri kita dihadapan Allah SWT. Semakin banyak dan kompleks permasalahan yang dihadapi seorang pemimpin, maka akan semakin sering dia sujud bersimpuh dihadapanNya.

2. Kekuatan Akhlak dan Mentalitas Pribadi.

Seorang pemimpin, dimanapun dia berada adalah seorang figur panutan. Setiap gerak tingkah lakunya akan dilihat dan diamati oleh setiap orang. Integritas pribadinya akan menjadi sorotan dan panutan orang lain. Sekecil apapun yang dilakukan seorang pemimpin, maka puluhan, ratusan atau ribuan pasang mata melihatnya, sehingga berhati-hatilah dalam perilaku kita sebagai seorang pemimpin.

Kekuatan akhlak dan mentalitas pribadi ini bukan hanya baiknya akhlak saja, tetapi juga kemampuan untuk senantiasa berada dipihak kebenaran serta berani membela kebenaran. Berani membela dan mengatakan yang benar walaupun pahit terasa, atau nyawa taruhannya. Begitulah seharusnya kekuatan akhlak seorang pemimpin.

3. Kompetensi Diri dan Kemampuan Organisasi.

Seorang pemimpin harus memiliki kecerdasan personal, walaupun tidak harus menguasai semua bidang, tetapi paling tidak dapat dan mampu menangkap ide-ide kreatif, saran dan masukan dari seluruh pihak, untuk selanjutnya diterjemahkan dalam gerak organisasi dan kebijakan pimpinan. Kecerdasan personal seorang pemimpin inilah yang menjadikan dirinya mampu mengendalikan orang lain bukan dikendalikan oleh orang lain.

Selain dari itu seorang pemimpin harus dapat mengendalikan organisasi untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi, oleh karena itu kemampuan organisasi mutlak diperlukan oleh seorang pemimpin.

Tiga hal ini yang diperlukan oleh seorang pemimpin, agar dapat mengemban amanah kepemimpinan dengan baik. Ingat kepemimpinan adalah amanah, banyak orang yang tergelincir karenanya.

‪#parentingantikorupsi

‪#GakPakeKorupsi

Revolusi Pendidikan Kita

Pagi tadi salah seorang guru di sekolah tempat saya beraktifitas bercerita tentang pengalamannya mengikuti kegiatan pelatihan / pembinaan selama 6 hari, sebagai utusan sekolah kami. Beliau menyampaikan bahwa pada malam hari terakhir beliau bertengkar dengan panitia pembinanya.
Saya tanyakan, “memang ada apa?”
“Dimalam terakhir saat kegiatan api unggun pak”, kata beliau.
Saya katakan, “Itu hal biasalah, dalam setiap kegiatan pasti pada malam akhir penutupan diadakan kegiatan haflah atau tampilan-tampilan berupa hiburan, acara santailah, yang terpenting kita meyakini bahwa api unggun itu hanya sebatas sebagai penghangat badan dan pengusir nyamuk, bukan sarana ibadah”.
“Sebenarnya acara api unggunnya tidak saya permasalahkan pak noor, tetapi setelah acara dimulai salah seorang panitia maju ke depan, sambil memegang tongkat dan menawarkan kepada peserta yang mengelilingi api unggun, siapa yang berani tampil ke depan?, ada beberapa peserta termasuk saya tampil ke depan untuk mengisi acara, ketika kami termasuk saya telah memegang tongkat yang dibawa panitia tadi, langsung panitia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, katanya”
“Tidak pantas bagaimana?” tanyaku
“Yaah pokoknya tidak pantaslah pak, ada kata-kata binatang yang dikeluarkan dari mulut panitia, yang tidak pantas diucapkan pada saat itu, karena hampir semua peserta kegiatan itu adalah utusan sekolah, berarti mereka guru”, lanjutnya.
“Terus gimana kelanjutannya”, tanyaku lagi penasaran
“Iya, saya langsung protes, si panitia merasa acaranya diusik marah dan menyuruh saya ke ruang panitia, sampai di ruang panitia, ketua panitia dan panitia tadi menyampaikan bahwa kata-kata itu hanya bagian dari acara jadi tidak serius, tapi saya tetap ngotot pak, saya katakan tetap saja, bahwa kata-kata itu tidak pantas diucapkan di depan peserta yang sebagian besar adalah guru-guru yang mewakili sekolahnya”, katanya dengan bersemangat.
“akhirnya panitia itu meminta ma’af malam itu, dan keesokan harinya ketika acara penutupan saat penyampaian kesan dan pesan saya angkat kembali permasalahan semalam, dan panitia meminta ma’af kembali”, jelasnya menutup bincang-bincang kami.

Beginilah wajah (sebagian) dunia pendidikan kita, sekolah sebagai “mesin” penghasil generasi penerus harusnya dioperasikan oleh guru yang baik. Ketika guru sebagai operator mesin ini tidak baik, maka bagaimana mungkin produk yang dihasilkan akan baik.

Namun gurupun harus dikelola oleh pengelola yang baik, ketika pengelola guru tidak baik, maka jangan berharap akan baik output anak didik yang dihasilkannya.

Cerita teman saya di atas adalah salah satu contoh, betapa sisa-sisa feodalisme masih ada dan bersarang dalam diri panitia, yang jika hal ini dibiarkan tidak disadarkan, maka para peserta akan menurunkan kepada anak didiknya ketika mereka menjadi panitia di sekolah masing-masing, atau paling tidak mereka akan membiarkan dan mendiamkan ketika ada siswanya yang menjadi panitia acara, menggunakan kata-kata kasar kepada pesertanya, dengan dalih ‘bagian dari acara”.

Sesungguhnya anak didik atau siswa adalah amanah dari sistem pendidikan kita, raga dan jiwanya akan berkembang sesuai dengan arahan dan bimbingan pendidiknya. Dunia pendidikan dan sistem pendidikan kita harus di perbaiki, tidak cukup hanya direformasi, diperbaiki beberapa bagian saja tapi tetap mempertahankan bagian yang lain, tetapi harus di “revolusi” seluruhnya. Dibongkar mentalitas feodal, mentalitas merasa paling benar karena posisinya, mentalitas korup dengan dalih atau alasan apapun.

Maka saya teringat pesan dari pembina sekolah kami Bapak Ir. Abdul Kadir Baraja, dalam satu sesi pembinaan, beliau menyuruh saya maju ke depan, kemudian beliau memberikan saya kertas tissue dan menyuruh saya membuang kertas tadi di depannya. Beliau menyampaikan bahwa seorang guru yang baik bukanlah yang menyuruh anak yang membuang sampah tadi untuk mengambil sampah dan membuang pada tempatnya. Tetapi guru yang baik adalah yang mengambil sampah (yang dibuang anak tadi) kemudian membuangnya ditempat sampah, lalu memberikan nasihat pada anak tadi untuk membuang sampah pada tempatnya.

Keteladanan, itulah kata kunci dalam pendidikan, maka jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat sholat berjama’ah di masjid, kalau gurunya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid, dan jangan berharap guru akan semangat sholat berjama’ah di masjid kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid.

Demikian juga dengan belajar dan berprestasi, jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat untuk belajar dan berprestasi, kalau gurunya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi, dan jangan berharap guru akan semangat untuk belajar dan berprestasi kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi.

Jadi mulailah revolusi mental itu dari dalam diri kita, Allahu’alam.

‪#‎parentingantikorupsi‬

‪#‎GakPakeKorupsi‬

….dan akhir itu lebih baik, dari permulaan…….

Dahulu ketika saya masih tinggal Cipinang sering sekali (hampir setiap hari) mendengar senandung do’a meminta husnul khatimah (akhir yang baik) yang disenandungkan oleh ibu-ibu majelis taklim melalui speaker masjid atau mushola.
ﻳﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻬﺎ ﻳﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻬﺎ – ﻳﺎﺍﻟﻠﻪ ﺑﺤﺴﻦ ﺍﻟﺨﺎﺗﻤﺔ
YaAllah biha YaAllah biha
YaAllah bihusnil khotimah
Wahai Allah aku telah memohon dengan sangat…..
Wahai Allah jadikanlah akhir hidupku nanti sebaik baik akhiran.Meminta akhir yang baik….
…..karena titik akhir menentukan arah.
…..karena titik akhir menentukan dimana kita akan berhenti.
Dalam Al Quran Allah SWT., mengingatkan kita….
وَلَلْآخِرَةُ خَيْرٌ لَكَ مِنَ الْأُولَىٰ
dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan (QS.Ad Dhuha:4),
dalam ayat yang lain di surat Al ‘Ala, Allah SWT., berfirman
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Dan kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. (QS.Al-a’la:17),
dalam sebuah hadits yang shahih :
إنَّمَا الأَعْمَالُ بِالخَـوَاتِيْمُ  (رواه البخاري وغَيْرُهُ
“Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya (akhirnya)”. [HR Bukhari].
Dan saat ini kita sedang menapaki hari-hari dimana Ramadhan akan berakhir (insyaallah 9 atau 10 hari lagi). Maka marilah kita merenung sejenak….,
…..tentang perjalanan ibadah Ramadhan kita
…..tentang peluang hidup kita, mungkinkah akan bertemu dengan Ramadhan tahun depan.
…….tentang kemaksiatan dan dosa kita selama ini.Maka Allah SWT., Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, memberikan sebaik-baik peluang dan kesempatan pada kita. Diberikannya kita bulan Ramadhan, yang didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Peluang ini diberikan kepada kita semua, maka mari bersungguh – sungguh mengejarnya, mari bersemangat meraihnya, karena ini adalah peluang mengakhiri Ramadhan 1436 H dengan akhir yang baik, peluang kesempatan menutup hidup (jika ini adalah tahun terakhir hidup kita) dengan Ramadhan terbaik kita.
Maka mari dengarkan nasehat dari manusia mulia, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari). Dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang lain
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah lailatul qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).
Kalaupun kita lelah dan letih maka ingatlah nasehat Beliau Saw., dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ia ditimpa keletihan, maka janganlah ia dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim).
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari).
Maka mari kita ringankan hati & badan kita, mari kita teguhkan niat dan azam kita. Mari bersama keluarga melangkahkan kaki kita ke Rumah – rumah Allah untuk ber i’tikaf di sisa Ramadhan ini. Mari kita benamkan diri kita dalam samudra suci penghujung Ramadhan.
Semoga Allah mudahkan segala urusan dan kesibukan dunia kita, kesibukan dalam menghadapi Idul Fitr yang terkadang menjauhkan kita dari kemuliaan penghujung Ramadhan…Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, biasa ber’itikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari, namun pada tahun wafatnya Beliau Saw., ber’itikaf selama dua puluh hari”.Mari bermunajat pada Allah SWT., di penghujung Ramadhan ini.
Mari memohon ampun pada Allah SWT., di akhir – akhir Ramadhan ini,
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah lailatul qadar, lantas apa do’a yang mesti kuucapkan?” Jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
….dan akhir itu lebih baik, dari permulaan…….
Allahu’alam
Jatisari, penghujung Ramadhan 1436 H.

20 Menit “Reading Aloud” untuk Kehidupan Anak – anak Kita

CIMG8281Tentang Reading Aloud

Reading Aloud sebenarnya bukan sesuatu yang baru,  “Reading Aloud” berarti membacakan dengan keras atau nyaring. Ketika saya bersekolah di jenjang sekolah dasar, sekitar tahun 70-an, kegiatan Reading Aloud (membaca nyaring) sering dilakukan dan dipraktekan oleh guru-guru kami. Reading Aloud yang biasa dilakukan oleh siswa kala itu adalah membaca bersama-sama satu atau dua paragraph pada buku paket, dengan irama yang standar. Kegiatan ini selain melatih pengucapan siswa agar dapat mengucapkan melafalkan huruf dan kata dengan benar, melatih siswa agar dapat mengucapkan dengan intonasi yang benar, dan melatih siswa untuk mengucapkan dengan suara nyaring (tidak teriak-teriak). Selain dari kegiatan siswa tersebut Reading Aloud juga sering dilakukan oleh guru-guru kami kala itu, baik ketika membaca satu pokok bahasan dalam buku paket, atau membaca buku cerita atau mendongeng (ini yang menarik buat kami siswa – siswa nya).

Pembaca  yang baik adalah pembaca yang mampu berkomunikasi dengan buku yang dibacanya. Pembaca yang baik senantiasa melibatkan  seluruh potensi dirinya, fisik (oral) untuk melafalkan huruf dan kata dengan baik, melakukan penekanan atau intonasi kata dan kalimat dengan tepat. Melibatkan fikirannya untuk memahami isi dan makna dari kata – kata dan kalimat yang ada dalam buku tersebut, serta melibatkan perasaannya untuk menjiwai alur cerita buku yang dibacanya, bahkan anggota tubuh lainnya (body language), untuk memeragakan atau menguatkan kesan dari cerita yang dibacanya. Semua dilakukan agar para pendengar tidak bosan, dan dapat menangkap pesan yang terdapat dalam buku yang dibaca, mampu memahami isi bacaan dengan baik.

Istilah Read Aloud akhir – akhir ini banyak dibicarakan dan kembali digencarkan oleh para pegiat literasi baik secara perorangan maupun berkelompok / komunitas. Namun gerakan Read Aloud yang kembali digaungkan ini, bukan ditujukan ke sekolah – sekolah, karena bisa jadi sebagian sekolah masih menerapkan atau menjalankan kegiatan read aloud atau membaca nyaring sampai saat ini.

Kegiatan read aloud yang sedang gaungkan oleh para pegiat literasi adalah kegiatan read aloud yang dilakukan oleh para orangtua di rumah – rumah mereka. Di era teknologi informasi seperti sekarang ini, budaya membaca buku mulai hilang tergerus, tergantikan dengan tontonan di TV, Internet, Games dan lainnya. Target utama kegiatan read aloud adalah selain memunculkan kembali minat baca anak – anak, juga agar terjalin komunikasi antara anggota keluarga, ditengah – tengah kesibukan ayah dan ibu yang bekerja.

Tentang Budaya Baca Di Indonesia

Indonesia yang sebagian penduduknya beragama Islam, sebagaimana yang tercantum dalam kitab Al Quran ayat yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw., adalah “Iqro” “bacalah”. Seharusnya bangsa kita memiliki budaya membaca yang baik. Namun sayangnya budaya membaca bangsa kita belum cukup baik.  Taufik Ismail dalam risetnya di tahun 2003 menyebutkan bahwa dahulu pada zaman Belanda siswa AMS (SMA) wajib membaca 25 buku sastra dunia yang terdiri atas empat bahasa yaitu Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis, pada 3 tahun bersekolah.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013  menyebutkan, minat baca di Indonesia hanya 20 persen. Sementara hampir 80 persen orang lebih suka nonton TV (televisi) dan mendengarkan radio. Berbeda dengan beberapa negara maju di dunia seperti, di Amerika Serikat, wajib baca buku setiap sekolah 30 buku, di indonesia nol persen. UNESCO pada tahun 2012 mencatat, indeks minat baca Indonesia baru mencapai 0,0001. Artinya, dalam setiap 1.000 orang Indonesia, hanya ada satu yang mempunyai minat baca. Sementara UNDP merilis angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen, sedangkan Malaysia sudah mencapai 86,4 % (sumber https://ayomembaca2014.wordpress.com/2014/08/07/minat-baca-di-indonesia/)

Sisihkan 20 menit untuk Anak Kita

Sesungguhnya gerakan Read Aloud, ini dapat dijadikan momentum untuk mengembalikan minat dan budaya baca di masyarakat kita. Namun target yang paling utama adalah  menjadikan keluarga sebagai pusat dari perubahan peradaban dan budaya di masyarakat.

Read Aloud yang dilakukan 20 menit oleh  setiap orang tua pada anak – anak mereka akan menjadi sarana menyenangkan, interaksi antar anggota keluarga. 20 menit ini akan kembali membangun keterikatan emosional antara kita  dan anak – anak kita. Dengan 20 menit ini, kita ingin tunjukkan pada anak – anak kita bahwa mereka adalah TERAMAT BERHARGA bagi kita. .

Bagaimana Memulainya….?

Ayah Bunda, para orangtua, tidak perlu bingung, memulainya. Ayah bunda tidak perlu menjadi pakar atau ahli mendongeng atau Read Aloud dahulu. Ayah bunda hanya perlu menyediakan waktu 20 menit untuk memulainya, mulailah dari buku – buku yang tipis dan tema sederhana. Tawarkan dan tanyakan pada anak  buku mana yang mereka inginkan untuk dibaca oleh ayah bunda. Bisa juga untuk kejutan bagi mereka ayah bunda membeli buku – buku yang mereka sukai, tanpa mereka ketahui. Selanjutnya ikuti tahapan berikut :

  1. Baca dahulu buku tersebut, sebagai persiapan awal kita (sebaiknya sebelum anak – anak berkumpul, agar mereka tidak perlu menunggu lama).
  2. Berikan pembukaan sebelum membaca, misalnya dengan menunjuk cover atau sampul buku, halaman depan, menunjukkan gambar apa yang ada, atau menyebutkan pengarang dan Ilustratornya, kemudian sekilas kita sampaikan tentang isi cerita agar suasana dapat terbangun.
  3. Saat memulai membaca, perhatikan performance membaca kita, bacakan cerita dengan se-ekpresif dan semenarik mungkin. Gunakan intonasi suara disesuaikan dengan cerita (keras/lembut, cepat/lambat, dan lain sebagainya), gunakan body language untuk memperkuat ekspresi kita.

Ayah bunda, selamat menikmati 20 menit bersama keluarga

 

Jatisari, 17 Maret 2015

16.30 ditengah curahan Rahmat dari Rabb semesta alam…..

 P1040059

Komunitas Sejuta Guru Ngeblog

JpegKopdar Akbar Guru Blogger Nasional , Ahad 15 Maret 2015,  yang digagas oleh Komunitas  Sejuta Guru Ngeblog, merupakan ajang temu kangen dan perkenalan antara anggota komunitas. Kegiatan Kopdar ini baru pertama kali diadakan, karena memang KSGN juga baru 1 tahun dibentuk, bulan Februari 2014, yang dibentuk oleh para guru profesional dibidangnya dan sudah pasti suka ngeblog. Para “pawang” KSGN tersebut adalah Wijaya Kusumah (biasa dipanggil oleh para blogger Om Jay), Namin AB Ibnu Solihin (Motivator Kreatif), Dedi Dwitagama (Kepala SMKN 2 Penerbangan), Mas Sukani (Juara Lomba Guru Era Baru),  Amiroh Adnan (Juara Lomba Guru Era Baru), Sudarma, Muhammad Sukbari, dan Meti Mediya., Yulef Dian.

Bekerjasama dengan  PT Indosat Tbk., kegiatan ini berlangsung dalam suasana yang santai dan sangat bermanfaat yang luar biasa. Terutama memunculkan semangat dan motivasi para guru untuk mengembangkan wawasan tekhnologi (khususnya IT) dan memotivasi untuk memiliki blog pribadi.

Kegiatan Kopdar KSGN diisi dengan informasi dan pengenalan Forum Icity, yang disampaikan oleh mbak Ghina dari  PT Indosat Tbk., menurut beliau forum ini adalah satu-satunya forum di Indonesia yang memberikan solusi di bidang IT, disamping keunggulan – keunggulan lainnya silahkan kunjungi http://icity.indosat.com/.

Selanjutnya acara dilanjutkan dengan bincang Guru Blogger Berprestasi, yang diisi oleh 3 pembicara Dedi Dwitagama, Amiroh Adnan, dan Muhammad Subakri dipandu oleh Namin AB Ibnu Sholihin. Secara umum ketiga pembicara yang luar biasa ini memaparkan tentang pengalaman mereka berblog ria, dan menyampaikan tentang manfaat dari kegiatan ngeblog bagi seorang guru.

Sesi berikutnya adalah seminar IT dengan pembicara Imam Suwandi ( Cak Imam, dari Metro TV ), yang memaparkan tentang pemanfaatan tekhnologi dan trend baru “Citizen Journalism”  menggunakan alat sederhana HP dan tongsisnya. Materi ini bermanfaat untuk semua kalangan masyarakat untuk dapat melaporkan setiap kejadian – kejadian penting yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sesi ketiga ini juga diisi oleh seorang dosen “nyentrik” Bapak Ono W. Purbo, dengan tampilan sederhana dan energik, beliau memaparkan tentang paradigma seorang guru seharusnyadan target seorang guru dalam menilai anak didiknya, terobosan-terobosan yang telah beliau lakukan dalam memanfaatkan IT untuk memudahkan siswa dalam mencapai prestasinya patut diacungi jempol. Bahkan beliau mempersilahkan jika ada yang berminat menjadi mahasiswa online beliau (gratis tanpa dipungut biaya) silahkan kunjungi http://cyberlearning.web.id/moodle/

Ada beberapa catatan menarik dari kegiatan ini (tentunya hanya sebagian yang terekam dan tercatat oleh saya) :

  1. Pilihan ada dalam diri kita untuk menjadi guru yang dikenang atau guru yang hilang dalam kenangan, ketika kita memilih untuk menjadi guru yang dikenang setelah kematian kita, maka pilihannya adalah menulis dan menurunkan ilmu kita dalam blog, agar dapat dimanfaatkan bukan saja oleh murid-murid kita, tetapi oleh banyak orang di seluruh dunia.
  2. Seorang guru harus dapat memanfaatkan semua tekhnologi yang ada hari ini, termasuk internet dengan membuat blog, yang berisi ilmu-ilmu yang bermanfaat, sehingga jika ada satu juta guru, mengisi dan meramaikan dunia maya, dengan postingan – postngan (gambar, film atau tulisan) berisi ilmu dan bermanfaat, maka akan menggeser atau paling tidak mengurangi konten-konten dan postingan-postingan yang tidak bermanfaat.
  3. Pemanfaatan tekhnologi untuk dunia pendidikan sangat terbuka dan terbentang luas dan sudah berada dalam genggaman kita dalam bentuk smartphone, tinggal permasalahannya adalah apakah yang smart hanya phone saja atau juga pemiliknya.

Goresan ini saya akhiri dengan satu catatan menarik dan inspiratif dari seorang guru dari desa yang hadir pada Kopdar 1 KSGN Bapak Muhammad Subakri, yang menjadi pemotivasi semangat saya hari itu adalah (beliau menukil ucapan seorang ulama besar Imam Al Ghazali) “Kalau kau bukan anak raja, dan kau bukan anak seorang ulama besar, maka menulislah”.

Jatisari, 17 Maret 2015,

00:27 menjelang lelap malam

Jpeg