Latest Posts

…mereka membela Rasulullah SAW., dengan cara dan kemampuan mereka…..

“Demi Allah, tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!”

Demikian ungkapan singkat salah seorang shahabat Rasulullah SAW., Khubaib bin Adiy, ketika dalam kondisi sekarat, setelah dihujani anak panah oleh pasukan pemanah kafir Qurasy, dalam sebuah eksekusi yang disaksikan oleh banyak orang kafir.

Dalam kondisi sekarat tersebut Abu Sufyan (ketika itu masih kafir), menghampirinya dan berkata, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikanmu sementara kau sehat wal afiat bersama keluargamu?”

Demi Allah,” jawab Khubaib, “Tak sudi aku bersama anak istriku selamat menikmati kesenangan dunia, sementara Rasulullah terkena musibah walau oleh sepotong duri!”

Abu Sufyan pun geleng-geleng kepala sambil berkata, “Demi Allah, belum pernah aku melihat manusia yang sangat mencintai sahabatnya, seperti halnya sahabat-sahabat Muhammad ini terhadap Muhammad.”

Maka tanpa ampun lagi, pedang sang algojo pun menghabisi Khubaib. Namun sebelum ruhnya meninggalkan raga, Khubaib sempat berucap, “Ya Allah, kami telah menyampaikan tugas dari Rasul-Mu, maka mohon disampaikan pula kepadanya esok, tindakan orang-orang itu terhadap kami.

Begitulah salah satu kisah tentang kecintaan para shahabat kepada Nabi Muhammad SAW., yang direkam oleh sejarah, diantara banyak kisah tentang kecintaan pada Rasulullah SAW., lainnya.

Mereka, para shahabat radhiAllahu anhum, tidak pernah merayakan maulidnya Rasulullah SAW., tetapi mereka tunjukan kecintaan itu dalam keseharian mereka, bukan basa – basi atau sekedar ritual saja.

begitulah kecintaan ….ia akan melahirkan pembelaan

begitulah kecintaan ….ia akan melahirkan pengorbanan

begitulah kecintaan ….ia membutuhkan pembuktian

dari sang pecinta….kepada yang dicintainya

Para Shahabat ra., telah membuktikannya, generasi salaf pun telah membuktikannya, dan hari ini tugas kita membuktikan kecintaan kita pada Rasulullah SAW.,

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )”. (QS. Al Ahzab: 23).


Serpihan Kertas Ibunda

Konon dahulu, ada sebuah negara yang memiliki kebiasaan meninggalkan orangtuanya yang sudah tua renta di tengah hutan. Mereka beranggapan bahwa orangtuanya sudah tidak lagi berguna, karena sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi. Mereka beranggapan bahwa orangtuanya yang telah tua dan tidak dapat berbuat apa-apa lagi itu hanya menjadi beban, di rumah atau di hutan sama saja lambat laun akan mati.

Alkisah ada seorang anak laki-laki yang karena kebiasaan dan tradisi leluhur harus meninggalkan ibunya yang tua renta. Setelah menyiapkan bahan makanan untuk ibunya selama beberapa bulan, dia gendong ibunya, untuk dibawa ke tengah hutan. Anak laki-laki tersebut menggendong ibunya yang tua renta dan lumpuh kakinya.
Sepanjang perjalanan si ibu yang berada di pundak anak laki-lakinya melemparkan kertas-kertas kecil yang sudah dipersiapkannya jauh-jauh hari.
Sesampainya di tengah hutan, dengan sedih dan gamang, anak laki-laki tadi meletakkan ibunya dan membuat sebuah gubuk untuk ibunya.
Selesai gubuk dibuatnya dan sebelum pergi meninggalkan ibunya, dia menatap wajah dan mata sang ibu, dengan nada sedih dia berkata,”bunda ma’afkan ananda,……..tradisi dan kebiasaan leluhur kita yang mengharuskan ananda melakukan ini”.
Sambil tersenyum dan menatap tegar anaknya, si ibu berkata,”sudahlah nak, ibu tahu engkau sudah memikirkannya jauh-jauh hari untuk mengikuti tradisi yang dilakukan oleh masyarakat kita, karena ibu pun melakukannya pada nenek mu dulu. Pulanglah nak, agar engkau tidak tersesat kembali ke rumah kita, ikutilah potongan-potongan kertas itu, sudah bunda siapkan jauh-jauh hari”.
Dengan menangis, si anak laki-laki tadi memeluk ibunya, dan meminta ma’af padanya, kemudian digendongnya kembali ibunya untuk dibawa pulang ke rumah mereka…….

Jatisari, 23 Desember 2014.


Revolusi (Mental) Pendidikan Kita

Pagi tadi salah seorang guru disekolah tempat saya beraktifitas bercerita tentang pengalamannya mengikuti kegiatan pelatihan / pembinaan selama 6 hari, sebagai utusan sekolah kami. Beliau menyampaikan bahwa pada malam hari terakhir beliau bertengkar dengan panitia pembinanya.
Saya tanyakan, “memang ada apa?”
“Dimalam terakhir saat kegiatan api unggun pak”, kata beliau.
Saya katakan, “Itu hal biasalah, dalam setiap kegiatan pasti pada malam akhir penutupan diadakan kegiatan haflah atau tampilan-tampilan berupa hiburan, acara santailah, yang terpenting kita meyakini bahwa api unggun itu hanya sebatas sebagai penghangat badan”.
“Sebenarnya acara api unggunnya tidak saya permasalahkan pak noor, tetapi setelah acara dimulai salah seorang panitia maju ke depan, sambil memegang tongkat dan menawarkan kepada peserta yang mengelilingi api unggun, siapa yang berani tampil ke depan?, ada beberapa peserta termasuk saya tampil ke depan untuk mengisi acara, ketika kami termasuk saya telah memegang tongkat yang dibawa panitia tadi, langsung panitia mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas, katanya”
“Tidak pantas bagaimana?” tanyaku
“Yaah pokoknya tidak pantaslah pak, ada kata-kata binatang yang dikeluarkan dari mulut panitia, yang tidak pantas diucapkan pada saat itu, karena hampir semua peserta kegiatan itu adalah utusan sekolah, berarti mereka guru”, lanjutnya.
“Terus gimana kelanjutannya”, tanyaku lagi penasaran
“Iya, saya langsung protes, si panitia merasa acaranya diusik marah dan menyuruh saya ke ruang panitia, sampai di ruang panitia, ketua panitia dan panitia tadi menyampaikan bahwa kata-kata itu hanya bagian dari acara jadi tidak serius, tapi saya tetap ngotot pak, saya katakan tetap saja, bahwa kata-kata itu tidak pantas diucapkan didepan peserta yang sebagian besar adalah guru-guru yang mewakili sekolahnya”, katanya dengan bersemangat.
“akhirnya panitia itu meminta ma’af malam itu, dan keesokan harinya ketika acara penutupan saat penyampaian kesan dan pesan saya angkat kembali permasalahan semalam, dan panitia meminta ma’af kembali”, jelasnya menutup bincang-bincang kami.

Beginilah wajah (sebagian) dunia pendidikan kita, sekolah sebagai “mesin” penghasil generasi penerus harusnya dioperasikan oleh guru yang baik. Ketika guru sebagai operator mesin ini tidak baik, maka bagaimana mungkin produk yang dihasilkan akan baik.
Namun gurupun harus dikelola oleh pengelola yang baik, ketika pengelola guru tidak baik, maka jangan berharap akan baik output anak didik yang dihasilkannya.
Cerita teman saya di atas adalah salah satu contoh, betapa sisa-sisa feodalisme masih ada dan bersarang dalam diri panitia, yang jika hal ini dibiarkan tidak disadarkan, maka para peserta akan menurunkan kepada anak didiknya ketika mereka menjadi panitia di sekolah masing-masing, atau paling tidak mereka akan membiarkan dan mendiamkan ketika ada siswanya yang menjadi panitia acara, menggunakan kata-kata kasar kepada pesertanya, dengan dalih ‘bagian dari acara”.
Sesungguhnya anak didik atau siswa adalah amanah dari sistem pendidikan kita, raga dan jiwanya akan berkembang sesuai dengan arahan dan bimbingan pendidiknya. Dunia pendidikan dan sistem pendidikan kita harus di perbaiki, tidak cukup hanya direformasi, diperbaiki beberapa bagian saja tapi tetap mempertahankan bagian yang lain, tetapi harus di “revolusi” seluruhnya. Dibongkar mentalitas feodal, mentalitas merasa paling benar karena posisinya, mentalitas korup dengan dalih atau alasan apapun.
Maka saya teringat pesan dari pembina sekolah kami Bapak Ir. Abdul Kadir Baraja, dalam satu sesi pembinaan, beliau menyuruh saya maju ke depan, kemudian beliau memberikan saya kertas tissue dan menyuruh saya membuang kertas tadi di depannya. Beliau menyampaikan bahwa seorang guru yang baik bukanlah yang menyuruh anak yang membuang sampah tadi untuk mengambil sampah dan membuang pada tempatnya. Tetapi guru yang baik adalah yang mengambil sampah (yang dibuang anak tadi) kemudian membuangnya ditempat sampah, lalu memberikan nasihat pada anak tadi untuk membuang sampah pada tempatnya.
Keteladanan, itulah kata kunci dalam pendidikan, maka jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat sholat berjama’ah di masjid, kalau gurunya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid, dan jangan berharap guru akan semangat sholat berjama’ah di masjid kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat sholat berjama’ah di masjid.
Demikian juga dengan belajar dan berprestasi, jangan pernah berharap anak murid akan bersemangat untuk belajar dan berprestasi, kalau gurunya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi, dan jangan berharap guru akan semangat untuk belajar dan berprestasi kalau pimpinannya kepala sekolah, pengawasnya, manajer, direktur atau yayasannya tidak bersemangat untuk belajar dan berprestasi.
Jadi mulailah revolusi mental itu dari dalam diri kita, Allahu’alam.


Guru Era Baru itu Amanah, Cerdas, Energik & Ramah

Alhamdulillah, hari-hari terakhir ini profesi guru merambat namun pasti menempati posisi yang prestise dari sisi sosial ekonomi. Setelah beberapa tahun sebelumnya paling tidak, tahun disaat lagu “Umar Bakri”, bang Iwan Fals menjadi lagu hits, walaupun ditengah intimidasi penguasa, namun lagu tersebut berhasil membooming, karena menyuarakan isi hati rakyat terutama para guru saat itu.

Mungkin hari ini ada beberapa bait lirik lagu bang Iwan, yang sudah tidak update lagi, karena hari-hari terakhir ini regulasi pemerintah yang berupaya untuk dmeningkatkan kesejahteraan guru sudah dikeluarkan baik itu guru swasta apalagi negeri, walaupun memang masih jauh, jika dibandingkan dengan profesi lain, tetapi paling tidak, profesi guru tidak lagi dilihat sebelah mata, oleh masyarakat, tidak lagi dijadikan profesi terakhir, daripada tidak ada pekerjaan lain.

Sesungguhnya, masa depan negeri tercinta Indonesia ini berada ditangan mereka para Guraru ACER (guru era baru yang amanah, cerdas, energik dan ramah). Guru tetaplah unsur sentral dalam dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan. Walaupun disana (proses pendidikan) terdapat metode yang canggih atau materi belajar yang lengkap, namun keberadaan Guraru ACER ini sangatlah jauh lebih penting, dari semua itu.

Guru era baru yang Amanah, akan mampu menjalankan dan mengelola proses pendidikan dari hatinya, bukan dari lisannya saja, karena jika lisannya saja yang bekerja maka yang menerima pekerjaannya adalah telinga, tetapi jika ia bekerja dengan hatinya, maka yang menerima juga hati para siswanya.

Guru era baru yang Cerdas, akan mampu mencari dan mengelola bahan ajar yang ada disekitarnya, dia tidak akan terpaku dan pasrah dengan kondisi lingkungan yang tidak mendukung, dia akan terus mencari dan mencari sumber dan alat belajar yang dapat mensupport dirinya dalam mentransfer nilai dan ilmu kepada para siswanya. para guraru ini akan terus melesatkan wawasannya, baik wawasan metodik didaktikanya ataupun wawasan tekhnologinya. Dia akan senantiasa menyiapkan siswanya untuk siap menghadapi kehidupan mereka, dimanapun mereka berada, baik dalam kondisi keterbatasan tekhnologi dan informasi, maupun keberlimpahan tekhnologi dan informasi. Dia akan menjadi guru yang kreatif dan inspiratif bagi siswanya, dimanapun dia berada.

Guru era baru yang Energik, akan senantiasa bersemangat dan antusias dalam mengemban amanahnya. Guraru menyadari bahwa dari dirinyalah terpancar energi para siswanya, mereka (para siswa) akan bersemangat, ketika gurunya bersemangat dan sebalik. Guraru menyadari bahwa setiap orang memiliki permasalahannya masing-masing, namun permasalahan pribadi, rumah dan lingkungan akan ditanggalkannya dipintu gerbang sekolah, diawali langkah kaki pertamanya masuk dalam kelas, bertemu dengan siswanya dengan niat ikhlas dan tanpa beban masalah pribadinya.

Guru era baru yang Ramah, senantiasa tersenyum dan berlemah lembut pada seluruh siswanya. Dia menyadari bahwa dengan senyumlah segala kebaikan akan berawal, dengan senyumlah segala gundah gulana yang dihadapi seluruh siswanya (yang memiliki bermacam problem) yang sedikit dapat terkurangi. Keramahannya dapat dirasakan oleh siswanya, teman sejawat dan lingkungannya. Keramahannya akan mampu menyejukkan dan menentramkan siswanya. Sikap ramahnya akan mampu menumbuh suburkan “tanamannya” hingga dia dewasa nanti.

Maka siapapun anda, darimanapun latar belakang pendidikan anda, jadilah GURARU ACER……”Selamat Hari Guru”

Jatisari 25 November 2013


Khutbah Iedul Fitri 1434 H (lapangan Perumahan AL, Jati Kramat, Bekasi)

Istiqomah dalam Ketaqwaan

 إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّـئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يـَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّـقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يـَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّـقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّـقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِـهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِـيْـبًا.

يـَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّـقُوْا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُـطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَـهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

أَمَّا بَعْدُ؛ فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّـمَ وَشَّرَ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ,

 اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ,

 اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ, اللهُ اَ كْـبَـرْ,

الله أكبر كبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة و أصيلا
لا إله إلا الله ولا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون
لا إله إلا الله وحده صدق وعده ونصر عبده وأعز جنده وهزم الأحزاب وحده لا إله إلا الله والله أكبر الله أكبر ولله الحمد .
.

Alhamdulillah, Maha Besar dan Maha Suci Engkau Yaa Allah, yang dengan Kebesaran-Mu, Engkau hinakan orang – orang yang menentang Mu, yang dengan Kesucian-Mu, Engkau muliakan orang – orang yang istiqomah dalam beriman pada Mu.

Maha Terpuji Engkau Yaa Allah dalam limpahan nikmat yang menyenangkan kami, dalam genangan darah yang menyedihkan kami, dalam kobaran api dendam musuh-Mu dan musuh kami, yang meluluh lantakan rumah-rumah Mu, tempat hamba-hamba Mu bersujud di Mesir, Suriah, Palestina, Irak dan di Rohingya Myanmar.

Segala puji hanya milik Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah yang Merajai Hari Pembalasan. Tidak ada kebahagiaan hakiki kecuali dengan melaksanakan ketha’atan kepada-Nya.

Tidak ada rasa cukup, kecuali dengan mengharap rahmat-Nya. Tidak ada kemuliaan, kecuali dengan tunduk kepada keagungan-Nya. Tidak ada petunjuk, kecuali dengan mengikuti cahaya-Nya. Tidak ada kehidupan, kecuali dengan keridhaan-Nya. Tidak ada nikmat, kecuali dengan mendekatkan diri kepada-Nya. Dia-lah yang Maha memberi nikmat, Maha penerima taubat, Maha mengijabahi do’a para hamba-Nya.

Tidak ada yang berhak disembah kecuali Dia, yang Maha Tinggi lagi Maha Suci. Tidak ada yang bisa menghitung kenikmatan-kenikmatan yang telah Ia curahkan kepada para hamba-Nya. Dia-lah Pencipta langit dan bumi dan Penguasa jagad raya ini.

Ya Allah hanya milik Engkaulah segala pujian yang ada di langit dan di bumi ini. Maha Suci Engkau Ya Allah. Tidak ada sekutu bagi-Mu, Kami bersaksi, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yaa Allah.

Shalawat dan salam, semoga tetap tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW., hamba Allah yang paling mulia. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta. Sebagai imam bagi orang-orang yang bertaqwa. Sebagai hujjah bagi para manusia. Dialah yang telah menyampaikan risalah serta menunaikan amanah-Nya, berjihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya. Melalui Rasulullah lah, Allah membuka mata-mata yang buta, telinga-telinga yang tuli dan hati-hati yang terlena. Tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan mengikuti syariat yang diajarkannya.

Saudaraku kaum muslimin dan muslimat, jama’ah sholat iedul fitri, yang di muliakan Allah.

Sebulan penuh kita ditempa untuk memenangkan pertarungan melawan hawa nafsu, kita berusaha menundukkan hawa nafsu di bawah syariat Allah, kita mengatur makan, minum, hubungan suami istri serta berbagai macam aktifitas-aktifitas lain sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh Allah.

Oleh karena itu,sudah sepantasnyalah jika kita bersyukur kepada Allah SWT., atas segala limpahan rahmat, inayah dan karunia Nya, di pagi hari ini kita dapat dikumpulkan di tempat ini, untuk melaksanakan sholat Iedul Fitri 1434 Hijriah, yang merupakan rangkaian tak terpisahkan, dari ibadah Ramadhan.

Selama satu bulan penuh kita mengisi hari – hari Ramadhan dengan ibadah – ibadah wajib dan ibadah sunnah, dengan harapan Allah SWT., memberikan karunia ketaqwaan yang semakin meningkat kepada kita. Maka dengan ketaqwaan inilah kita menjalani kehidupan kita selama 11 bulan, sehingga hanya orang – orang yang dapat meraih ketaqwaan inilah yang dapat disebut faizuun orang yang beruntung. Hanya orang yang Ketaqwaannya meningkatlah yang  berhak merayakan Iedul Fitri, sebagaimana pepatah Arab mengatakan, Laysal ‘Iid liman labisal jadiid.. Wa innamal ‘Iid liman taqwaahu taziid.. (bukanlah ied orang – orang yang berpakaian baru, tetapi ied bagi mereka yang Taqwanya meningkat).

 Jama’ah Sholat Iedul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Sesungguhnya seluruh ibadah yang diperintahkan Allah SWT., kepada kaum mu’minin bertujuan untuk membentuk ketaqwaan dalam diri, termasuk ibadah Ramadhan yang kita jalani 1 bulan penuh adalah untuk membentuk diri kita menjadi hamba Allah yang bertaqwa. Tanda orang yang lulus dalam madrasah Ramadhan adalah orang-orang yang tetap dijiwai oleh semangat Ramadhan di luar bulan Ramadhan, yaitu membelenggu setan dan hawa nafsu, serta menghambakan diri hanya kepada Allah SWT, sebagaimana firman Nya dalam Al Quran surat Al Baqarah : 21

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa,

Al ‘Alim al ‘alamah Imam Syafi’irahima kumullah berkata :

 لاَيـَجـْمُلُالْعِلْمُوَلاَيَحْسُنُإِلاَّبِـثـَلاَثِخِلاَلٍ , تَقْوَ بِـاللهِوَإِصَابَـةِالسُّنَّةِوَالْخَشْيَةِ

“Ilmu tidak akan indah dan tidak akan bagus kecuali dengan tiga perkarayaitu :

 taqwa kepada Allah, bersesuaian dengan sunnah dan khasyyah” (Taqwa yang lebih spesifik).

Maka ba’da Ramadhan ini sudah sepatutnyalah kita menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT., sebagai buah dari Ramadhan yang kita jalani, jangan kita seperti seorang wanita yang menguraikan kembali benang sudah dipintalnya. Allah SWT., berfirman :

Allah SWT., menyampaikan kemuliaan bagi orang – orang yang istiqomah dalam QS Fushilat : 30 – 32.

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka (istiqomah) meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

31. Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.

32. Sebagai penghormatan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka betapa beruntungnya orang – orang yang istiqomah dalam keimanan dan menjalankan perintah Allah SWT., selepas Ramadhan ini. Semoga kita termasuk orang – orang yang senantiasa menjaga amalan – amalan ibadah kita ba’da Ramadhan ini.

Jama’ah Sholat Iedul fitri yang dirahmati Allah SWT.

Berikut adalah :

Kiat – kiat Agar Tetap Istiqomah

Pertama:  

Senantiasa Mengokohkan Aqidah

(Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma Wa Shifat Allah SWT.)

Memahami dua kalimat syahadat sebagaimana salafushsholeh memahaminya.

Allah Ta’ala berfirman,

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang lalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrahim: 27)

Qotadah As Sadusi mengatakan, “Yang dimaksud Allah meneguhkan orang beriman di dunia adalah dengan meneguhkan mereka dalam kebaikan dan amalan sholih. Sedangkan di akhirat, mereka akan diteguhkan di kubur (ketika menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir, pen).” Perkataan semacam Qotadah diriwayatkan dari ulama salaf lainnya.

Dari Ubadah bin Ash-Shamit radhiallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنَّ عِيسَى عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ وَالْجَنَّةُ حَقٌّ وَالنَّارُ حَقٌّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ عَلَى مَا كَانَ مِنْ الْعَمَلِ

“Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak kecuali Allah satu-satunya dan tiada sekutu bagi-Nya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan (bersaksi) bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya dan dia adalah kalam-Nya yang Allah berikan kepada Maryam dan ruh dari-Nya, dan surga adalah haq (benar adanya), dan neraka adalah haq, maka Allah akan memasukkan orang itu ke dalam surga betapapun keadaan amalnya”. (HR. Al-Bukhari no. 3435)

Salah satu realisasi dari benarnya Aqidah seseorang adalah dengan senantiasa mengkaji, menghayati dan mengamalkannya. Al Qur’an dan Hadits.

Rasulullah SAW., bersabda :

“Aku tinggalkan dua buah perkara, yang apabila kalian berpegang pada keduanya, kalian tidak akan tersesat selam-lamanya, Al Quran dan Sunnah”.

Al Qur’an adalah jalan utama agar seseorang bisa terus kokoh dalam agamanya. Alasannya, karena Al Qur’an adalah petunjuk dan obat bagi hati yang sedang ragu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ

Al Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushilat: 44).

Kedua :

Iltizam (komitmen dan konsekuen) dalam menjalankan syari’at Allah

Maksudnya di sini adalah seseorang dituntut untuk konsekuen dalam menjalankan syari’at atau dalam beramal dan tidak putus di tengah jalan, walaupun sedikit. Sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, beliau mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ‘Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. [15]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah bahwa amalan yang sedikit namun konsekuen dilakukan, itu lebih baik dari amalan yang banyak namun cuma sesekali saja dilakukan.

Rasulullah pernah mengecam orang yang tidak istiqomah dalam beramal, sebagaimana sabdanya dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padanya,

يـَا عَبْدَ اللَّهِ ، لاَ تَـكُنْ مِثْلَ فُلاَنٍ ، كَـانَ يَـقُومُ اللَّيْلَ فَـتـَرَكَ قِـيَـامَ اللَّيْلِ

Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.”[18]

Ketiga :

Membaca kisah-kisah salafush sholih sebagai uswah (teladan) dalam istiqomah.

Dalam Al Qur’an banyak diceritakan kisah-kisah para nabi, rasul, dan orang-orang yang beriman yang terdahulu. Kisah-kisah ini Allah jadikan untuk meneguhkan hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengambil teladan dari kisah-kisah tersebut ketika menghadapi permusuhan orang-orang kafir.

Keempat :

Memilih Teman bergaul dari orang-orang sholih.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajarkan kepada kita agar bersahabat dengan orang yang dapat memberikan kebaikan dan sering menasehati kita.

مَثَلُ الْجَلِـيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِـيْسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِـيْرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّـا تَشْتَرِيـْهِ ، أَوْ تَـجِدُ رِيـْحَهُ ، وَكِـيرُ الْحَدَّادِ يُـحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَـوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيـحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” [26]

Ibnu Hajar Al Asqolani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan larangan berteman dengan orang-orang yang dapat merusak agama maupun dunia kita.

Memperbanyak do’a pada Allah agar diberi keistiqomahan.

Di antara sifat orang beriman adalah selalu memohon dan berdo’a kepada Allah agar diberi keteguhan di atas kebenaran. Dalam Al Qur’an Allah Ta’ala memuji orang-orang yang beriman yang selalu berdo’a kepada-Nya untuk meminta keteguhan iman ketika menghadapi ujian. Allah Ta’ala berfirman,

رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 250)

Do’a yang paling sering Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam panjatkan adalah,
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Ya muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Ummu Salamah pernah menanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kenapa do’a tersebut yang sering beliau baca. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya menjawab,

يـَا أُمَّ سَلَمَةَ إِنّـَهُ لَيْسَ آدَمِىٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِـعِ اللَّهِ فَمَنْ شَاءَ أَقَامَ وَمَنْ شَاءَ أَزَاغَ

Wahai Ummu Salamah, yang namanya hati manusia selalu berada di antara jari-jemari Allah. Siapa saja yang Allah kehendaki, maka Allah akan berikan keteguhan dalam iman. Namun siapa saja yang dikehendaki, Allah pun bisa menyesatkannya.“[24]
Dalam riwayat lain dikatakan,

إِنَّ الْـقُـلُـوبَ بِـيَدِ اللَّهِ عَـزَّ وَجَلَّ يُـقَـلِّـبُـهَا

Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.“[25]

Akhirnya mari sama – sama kita menundukkan hati dan kepala  kita ke hadirat Allah SWT, memohon ridha danperkenanNya, agar do’a kita dikabulkan dan diterimanya.

 


Mari berhenti sejenak, dipenghujung Ramadhan………

Mari kita resapi kisah tentang, seorang anak yang menderita kanker ganas, kedua orangtuanya telah berupaya dengan berbagai cara berikhtiar untuk kesembuhan sang buah hati. Seluruh pengobatan mulai tradisional sampai yang modern telah diupayakan oleh mereka berdua untu sang buah hati. Do’a – do’a panjangpun sudah dipanjatkan kepada Allah SWT., untuk sang buah hatinya, namun sampai hari ini tidak ada tanda – tanda perbaikan, bahkan kondisi fisik sang buah hati semakin menurun. Namun kedua orangtua anak ini masih tetap tegar, mereka masih yakin bahwa Allah SWT., akan memberikan yang terbaik untuk mereka.

Akhirnya sebagai upaya terakhir mereka membawa putra tercintanya ke rumah sakit internasional dan ditangani oleh tim dokter yang memiliki kompetensi dan keahlian di bidang penangan masalah kanker.

Setelah dilakukan general chekup, dan pengecekan intensif terhadap kanker yang diderita anak tersebut, maka tim dokter sepakat menyatakan ini adalah jenis kanker baru, yang untuk menyelesaikannya perlu penelitian panjang, dan diperkirakan oleh dokter umur anak ini tidak akan bertahan lebih dari 1 pekan lagi.

Betapa kaget kedua orangtua anak tadi mendengar penjelasan dokter spesialis tadi, namun tempaan kondisi dan ketawakalan pada Allah SWT., yang membuat mereka tabah. Lamat – lamat terdengar dari lisan kedua orangtua sang anak ucapan innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Setelah melalui perbincangan, maka kedua orangtua anak ini pun bersepakat, bahwa mereka akan mengeluarkan anaknya dari rumah sakit internasional tersebut. Mereka akan berupaya optimal untuk merawat sendiri sang buah hati, karena secara fisik dan aktifitas keseharian sang buah hatinya tidak Nampak seperti orang yang menderita sakit. Dia masih bisa bermain, berlari, tertawa, makan dan minum secara normal, dibalik penyakit kankernya yang mematikan.

  Maka kedua orangtua ini bersepakat mengambil cuti dan tidak mau diganggu oleh urusan-urusan lain, urusan prioritas mereka saat ini adalah sang anak yang umurnya tinggal 6 x 24 jam. Mereka bersepakat akan berupaya optimal melayani sang anak, berinteraksi / bermain dengan sang anak yang hidupnya tinggal beberapa hari lagi. Apapun keinginan sang anak akan dipenuhinya keduanya. Mereka habiskan hari – hari bersama, tertawa bersama, gembira bersama, bercerita tentang kegemaran dan kesukaan mereka. Hingga satu pekan tepat dihari terakhirnya, Kekuasaan dan kekuatan dari Allah SWT., atas segalanya membuat kedua orangtua ini tegar, prakiraan dokter yang beberapa hari lalu benar adanya, sang buah hati dipanggil menghadap Rabbnya dengan senyum kepuasaan, karena dapat berinteraksi, bergembira, tertawa bersama dengan kedua orangtuanya………

Sungguh berat dirasakan oleh seorang hamba ketika akan ditinggalkan oleh orang dikasihi, dicintai sepenuh hati. Berpisah dengannya dan tidak akan pernah berjumpa lagi didunia.

Demikianlah dengan Ramadhan kita ini, bulan mulia yang Allah karuniakan pada kita ini tinggal 11 atau 12 hari lagi bersama kita. Bayangkan jika Allah SWT., memberikan informasi kepada kita bahwa Ramadhan 1434 H ini, adalah Ramadhan terakhir yang akan kita jalani dari sisa hidup kita, karena setelah Ramadhan usai nanti Allah akan cabut nyawa kita, apa yang akan kita lakukan?.

Ramadhan adalah kekasih kita, mari bayangkan satu atau dua pekan ini adalah waktu tersisa kita untuk bercengkrama dengan sang kekasih, hari-hari ke depan adalah hari-hari terakhir kita dengannya.

Mari bayangkan seandainya ramadhan tahun ini adalah ramadhan terakhir bagi kita.

Mari kita bersikap sebagaimana kedua orangtua yang anaknya terkena kanker, luangkan waktu, tinggalkan semua kepentingan dunia, lupakan semua urusan-urusan dunia, karena Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak urusan – urusan lain, urusan prioritas kita adalah mengisi, bercengkerama dengan Ramadhan yang tinggal beberapa hari kedepan.

Para shahabat Rasulullah Saw. Senantiasa menangis ketika dipenghujung Ramadhan, mereka bersedih karena Ramadhan akan meninggalkan mereka, mereka bersedih karena kesempatan untuk mendapatkan pahala yang berlimpah akan ditutup Allah. Lalu bagaimana dengan kita?

Ketika Ramadhan ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita, apakah yang akan kita lakukan? Masihkah kita berfikir tentang pakaian – pakaian hari raya, yang dipajang di supermarket dan mall ?, masihkah kita berfikir tentang kue – kue penghia meja rumah kita untuk menyambut tamu – tamu kita (yang bahkan mereka tidak akan mampu memakannya semua, karena hamper setiap rumah menyediakan makanan yang sama)?, masihkah kita terlena dengan kesibukan dan permainan di dunia untuk menghabiskan waktu dan mengisi hari – hari  Ramadhan kita?

 Maka berhentilah sejenak saudaraku ….

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, nikmatilah hari-hari Ramadhan kita, dan azamkan dalam diri kita untuk mengisi detik – detik Ramadhan dengan tilawah Al Quran.

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa kita akan berupaya mendapat keberkahan dan kebahagiaan selama hari – hari ramadhan tahun ini.

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa akan kita perbanyak amalan sholih di dalam bulan Ramadhan.

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa kita akan perbanyak qiyam Ramadhan.

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa kita akan perbanyak istigfar dan permohonan ampun kepada Allah SWT.

Berhentilah dengan segala kesadaran dan keinsyafan diri, bahwa kita akan meluangkan waktu satu menit, satu jam, satu hari atau sepuluh hari…..untuk I’tikaf dimasjid berkhalwat dengan Allah, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.,

 عَنْ عَبْدُالله بْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَ سُوْلُ اللهِ صَلَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاءَوَاخِرَ مِنَ رَمَضَانَ

Dari Ibnu Umar ra., dia berkata : “Adalah Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim).

 

عَنْ عَا ئِشَةَ قَالَ : كَانَ انَّبِيُّ صَلَ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ اِذَادَخَلَ الْعَشْرَ شَدَّ مِئزَرَهُ ,وَأَحْيَالَيْلَهُ ,وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ  

Dari A’isyah ra., dia berkata : “Adalah Nabi Saw., jika memasuki sepuluh (hari terakhir), maka Beliau Saw., mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (HR. Bukhari).

 

Maka mari bayangkan Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan penutup bagi kita, mafaatkan yang ada, optimalisasi waktu dan kesempatan yang tersedia, belum tentu tahun depan kita akan bertemu dengan Ramadhan lagi.

 

Jatisari, Ramadhan 1434 H.

 


Persiapan berkumpul di kampung halaman

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, wa ba’du

Sudah menjadi tradisi / kebiasaan turun temurun bagi masyarakat Indonesia khususnya setiap akhir dari Ramadhan, saat memasuki syawal Idul fitri berkumpul dengan sanak keluarga, orangtu, handai taulan, karib kerabat.

Segalanya akan diupaya untuk dapat melaksanakan tradisi tersebut, tentu saja selam tidak ada pelanggaran-pelanggaran wilayah syar’i, maka tradisi silaturrahim di hari raya Idul Fitri menjadi hal yang baik dan dapat terus dilaksanakan. Terlebih lagi jika dilakukan terhadap kedua orangtua kita, maka silaturrahim kepada mereka menjadi salah satu bagian dari bakti kita kepada keduanya.

Berkumpul dengan seluruh keluarga besar menjadi sangat menyenangkan dan membahagiakan jika semua dapat hadir, tidak ada yang tertinggal atau tidak hadir. Maka kebahagiaan semacam itu yang diharapkan oleh setiap mu’min,  agar kelak Allah Subhanahu wa Ta’ala., mengumpulkan mereka bersama keluarga besarnya di syurga. Kebahagiaan akan semakin sempurna dengan dikumpulkannya seorang mukmin bersama keluarga besarnya dari kalangan orangtuanya, pasangan – pasangan, dan anak – anak mereka.

Maka tabiat fitrah manusiawi ini telah Allah Subhanahu wa Ta’ala., berikan jaminan dan fasilitas kepada setiap mu’min, sebagaimana Firman-Nya dalam surat At Thur ayat 21:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِين

Orang-oranng yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.” (QS. At-Thur: 21)

 

Berkaitan dengan ayat tersebut Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya:

يخبر تعالى عن فضله وكرمه، وامتنانه ولطفه بخلقه وإحسانه: أن المؤمنين إذا اتبعتهم ذرياتهم في الإيمان يُلحقهم بآبائهم في المنزلة وإن لم يبلغوا عملهم، لتقر أعين الآباء بالأبناء عندهم في منازلهم، فيجمع بينهم على أحسن الوجوه، بأن يرفع الناقص العمل، بكامل العمل، ولا ينقص ذلك من عمله ومنزلته، للتساوي بينه وبين ذاك

Allah memberitahukan tentang keutamaan, kemurahan, dan nikmat-Nya kepada makluk-Nya, bahwa orang yang beriman, jika keturunannya juga mukmin maka Allah kumpulkan keturunannya bersama orang tuanya dalam satu kedudukan, meskipun amal keturunannya ini tidak sebanyak amal bapaknya. Agar lebih menyenangkan si bapak, dengan kehadiran anaknya di sisi mereka.

Allah kumpulkan mereka dengan wajah yang sangat indah, Allah angkat orang yang kurang amalnya dan Allah gabungkan bersama orang yang lebih sempurna amalnya. Namun hal ini sama sekali tidak mengurangi amal orang tua dan kedudukan orang tua, karena kesaman antara keduanya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7:432)

 

Dari said bin Jubair, bahwa Ibnu Abbas pernah menafsirkan ayat ini dan mengatakan:

هم ذرية المؤمن، يموتون على الإيمان: فإن كانت منازل آبائهم، أرفع من منازلهم ألحقوا بآبائهم، ولم ينقصوا من أعمالهم التي عملوا شيئا

Mereka adalah keturunan orang yang beriman. Mereka mati dengan membawa iman. Jika kedudukan bapaknya lebih tinggi dari pada derajatnya maka Allah kumpulkan mereka bersama bapaknya, tanpa mengurangi sedikit pun amal bapaknya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7:433)

          Maka berdasarkan ayat di atas, insyaAllah silaturrahim bersama keluarga besar kita masih dapat kita lakukan di hari akhir nanti, di syurga Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala kelak. Namun tentu saja dengan syarat : Orang tua yang beriman dan anak cucu yang mengikuti keimanan orangtuanya.

Lalu bagaimana jika, orangtua beriman tetapi anaknya tidak beriman sebagaimana orangtuanya? Atau sebaliknya?, maka dalam Al Quran surat Al Mumtahanah ayat 3, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Karib Kerabat dan anak-anakmu sekali-sekali tiada bermanfaat bagimu pada hari kiamat. Dia akan memisahkan antara kamu. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan” (Al Mumtahanah : 3)

 Turunnya ayat ini berkaitan dengan Shahabat Hathib bin Abi Balta’ah (seorang Muhajirin dan ahlu Badr), yang mengirimkan surat kepada orang Quraisy di Makkah bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa Salam akan menaklukan Makkah, dan agar mereka menjaga anak keluarga Hathib bin Abi Balta’ah di Makkah tetapi masih kafir. (lihat kitab Tafsir Ibnu Katsir dan kitab Asbabunnuzuul).

Dalam surat Az Zkhruf Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Saudara yang saling mencintai, pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa” (Az Zukhruf : 67).

 Maka menjadi syarat mutlak dikumpulkannya kita dengan seluruh keluarga besar kita di kampung halaman yang abadi di Syurga Nya Allah Subhana wa Ta’ala kelak, adalah dengan bekal keimanan dan ketaqwaan yang benar, yang dimiliki seluruh keluarga besar kita. Allahua’lam.

 


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.139 pengikut lainnya.